Belajar dari Bumi: Catatan dari Konferensi Kerja PENDIKS GEONUSA di Museum Geologi Bandung
Oleh : Yulia Enshanty, S.Pd, M.Pd (Wakil Kepala Balai Literasi dan Riset)

Ada banyak cara bagi seorang guru untuk belajar. Membaca buku, mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan sesama guru, atau bertemu langsung dengan para ahli. Namun, ada pengalaman belajar yang terasa berbeda ketika kita datang ke tempat di mana cerita tentang bumi disimpan dan dipelajari.
Pengalaman itulah yang dirasakan para guru yang tergabung dalam Perkumpulan Pendidik Sains Geografi Nusantara (PENDIKS GEONUSA) ketika mengikuti salah satu rangkaian Konferensi Kerja PENDIKS GEONUSA di Bandung. Pada Kamis, 27 Agustus 2026, para pendidik berkesempatan mengunjungi Museum Geologi Bandung dan mengikuti Sarasehan Geologi Populer (SGP) yang dilaksanakan di Auditorium Museum Geologi.
Mengusung tema “Pengembangan Kompetensi Geologi untuk Pendiks Geonusa”, kegiatan ini terasa bukan sekadar seminar. Ada ruang untuk mendengar, bertanya, berdiskusi, dan kembali mengingat alasan mengapa seorang guru geografi perlu terus belajar.
Di ruang auditorium tersebut, para peserta mendapatkan dua materi yang sangat dekat dengan kehidupan Indonesia. Materi pertama adalah “Tektonik dan Sejarah Geologi Indonesia” yang disampaikan oleh Yusup Iskandar, S.T. dari Pusat Survei Geologi (PSG).
Mendengarkan penjelasan tentang tektonik Indonesia membuat kita kembali menyadari bahwa tanah yang setiap hari kita pijak ternyata menyimpan cerita yang sangat panjang. Pegunungan, gunung api, lembah, pulau-pulau, hingga berbagai sumber daya alam yang kita kenal hari ini tidak hadir begitu saja. Semuanya merupakan bagian dari proses bumi yang berlangsung dalam waktu yang sangat panjang.
Bagi seorang guru geografi, pengetahuan seperti ini terasa penting. Sebab di dalam kelas, kita sering menjelaskan kepada siswa bahwa Indonesia berada di pertemuan lempeng tektonik. Namun, ketika pengetahuan itu didapat langsung dari ahlinya, konsep tersebut terasa lebih hidup. Ada cerita, proses, dan konteks yang membuatnya lebih mudah untuk dibawa kembali ke ruang kelas.
Materi kedua disampaikan oleh Dr. Yudhicara dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dengan tema “Bencana Geologi Indonesia”. Materi ini membawa peserta pada kenyataan bahwa bumi yang memberikan kehidupan juga memiliki dinamika yang tidak selalu dapat diprediksi atau dikendalikan manusia. Gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, longsor, gerakan tanah, hingga likuefaksi merupakan bagian dari potensi bahaya yang harus dipahami masyarakat Indonesia.l
Namun, memahami bencana bukan berarti harus hidup dalam ketakutan. Justru dengan mengenali karakter bumi dan memahami potensi bahayanya, kita dapat belajar untuk lebih siap. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Guru tidak hanya mengajarkan kepada siswa “apa itu gempa” atau “apa itu gunung api”, tetapi juga dapat mengajak mereka bertanya: Mengapa bencana itu terjadi? Mengapa wilayah tertentu lebih berisiko? Apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi? Dan bagaimana kita dapat mengurangi risikonya?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi awal tumbuhnya kesadaran kebencanaan pada generasi muda.
Kunjungan ke Museum Geologi pun memberikan kesan tersendiri. Museum tidak hanya menjadi tempat untuk melihat fosil, batuan, mineral, atau jejak sejarah bumi. Lebih dari itu, museum menjadi ruang yang mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan rasa ingin tahu.
Bagi para guru, perjalanan ini juga menjadi pengingat bahwa menjadi pendidik berarti harus bersedia menjadi pembelajar. Ilmu terus berkembang, bumi terus bergerak, dan persoalan yang dihadapi masyarakat juga terus berubah. Karena itu, guru perlu terus memperbarui pengetahuan agar apa yang dibawa ke dalam kelas tidak berhenti sebagai teori, tetapi mampu menjawab realitas yang ada di sekitar siswa.
Konferensi Kerja PENDIKS GEONUSA di Bandung akhirnya bukan hanya tentang pertemuan atau agenda organisasi. Ada semangat untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan pulang membawa sesuatu yang dapat diberikan kembali kepada peserta didik.
Dari Museum Geologi Bandung, para guru belajar satu hal sederhana: bumi tidak pernah benar-benar diam. Ia terus bergerak, berubah, dan menyimpan cerita. Tugas kita sebagai pendidik adalah membantu generasi muda memahami cerita itu agar mereka tidak hanya mengenal bumi sebagai tempat tinggal, tetapi juga mampu menghargai, menjaga, dan hidup berdampingan dengan berbagai dinamika yang menyertainya. Karena pada akhirnya, guru yang terus belajar tentang bumi akan lebih mampu mengajarkan kepada siswanya bagaimana cara hidup dengan bijak di atasnya.