Oleh : Yulia Enshanty, M.Pd (Wakil Ketua Balai Literasi dan Riset Pendiks GeoNusa, Guru Geografi SMA di Kabupaten Sukabumi)
Perubahan cuaca yang berlangsung cepat kini menjadi bagian dari keseharian kita. Pagi yang cerah bisa berubah menjadi sore yang mendung pekat dengan hujan deras, petir, atau tiupan angin kencang. Fenomena ini menandakan bahwa atmosfer sedang tidak stabil, dimana proses pembentukan awan badai terjadi secara intens dan dinamis. Salah satu cara paling akurat untuk memahami situasi tersebut adalah melalui data radar cuaca BMKG. Radar cuaca bekerja dengan memancarkan gelombang elektromagnetik yang kemudian dipantulkan kembali oleh butiran air di atmosfer. Hasil pantulan ini diolah menjadi citra berwarna yang disebut reflectivity map. Semakin tinggi nilai pantulannya, semakin besar potensi hujan dan badai (Yang, 2022).
Setiap warna pada citra radar memiliki arti tersendiri. Warna biru dan hijau biasanya menunjukkan hujan ringan atau awan tipis. Ketika radar menampilkan warna kuning, itu berarti curah hujan mulai meningkat dan awan konvektif sedang aktif. Warna oranye menunjukkan hujan yang lebih deras dengan potensi munculnya petir, sedangkan warna merah menandakan intensitas hujan sangat tinggi dan kemungkinan besar disertai badai petir atau angin kencang (Sun, 2019).
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa peningkatan reflektivitas pada radar memiliki hubungan erat dengan pertumbuhan awan badai Cumulonimbus yang dapat menimbulkan hujan ekstrem dan petir (Mandú et al., 2024). Dengan demikian, perubahan warna dari kuning ke merah bukan hanya tampilan visual semata, tetapi peringatan dini dari langit bahwa kondisi atmosfer sedang berpotensi ekstrem.
Kini, data radar cuaca tidak lagi terbatas bagi ahli meteorologi. Siapa pun dapat mengaksesnya secara real-time melalui situs dan aplikasi resmi lembaga meteorologi (BMKG, 2025). Dengan memahami arti warna pada radar, masyarakat dapat menyesuaikan aktivitasnya: menunda perjalanan, menyiapkan perlindungan dari hujan, atau memastikan saluran air di sekitar rumah tidak tersumbat.
Selain itu, radar cuaca BMKG berperan penting dalam sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi. Data reflektivitas yang diperoleh setiap lima hingga sepuluh menit membantu memantau pergerakan awan hujan secara dinamis. Informasi ini menjadi dasar bagi prakirawan untuk mengeluarkan peringatan dini hujan lebat, angin kencang, atau potensi banjir bandang di berbagai daerah (BMKG, 2025). Semakin banyak masyarakat yang memahami cara membaca radar, semakin cepat pula mereka dapat merespons perubahan cuaca yang berpotensi berbahaya.
Tidak hanya itu, pemanfaatan radar cuaca juga dapat diintegrasikan dalam pembelajaran di sekolah. Guru dapat mengajak siswa menganalisis citra radar harian, mencatat perubahan warna, serta membandingkannya dengan kondisi cuaca aktual. Aktivitas sederhana ini menumbuhkan literasi cuaca, yaitu kemampuan memahami dan menafsirkan informasi atmosfer secara kontekstual. Dengan begitu, kesadaran terhadap risiko bencana dan sikap tanggap lingkungan dapat tumbuh sejak dini.
Kemampuan membaca radar cuaca merupakan bentuk literasi lingkungan modern. Ia tidak hanya membantu kita memahami pola atmosfer, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk hidup lebih waspada terhadap risiko bencana hidrometeorologi. Mengenali warna kuning hingga merah di radar berarti membaca pesan alam pesan yang mengingatkan kita agar selalu siap menghadapi cuaca ekstrem dengan bijak.
Referensi
BMKG. (2025). Radar Cuaca dan Interpretasi Warna Citra Satelit. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.
Mandú, T. B., Alves, L. E. R., Vendrasco, É. P., & Biscaro, T. S. (2024). Development of Vertical Radar Reflectivity Profiles Based on Lightning Density Using the Geostationary Lightning Mapper Dataset in the Subtropical Region of Brazil. Remote Sensing, 16(20), 3767.
Sun, M. (2019). Study on Reflectivity Data Interpolation and Mosaics for Multiple Radars. EURASIP Journal on Wireless Communications and Networking, 2019(1), 1465.
Yang, L. (2022). Radar Composite Reflectivity Reconstruction Based on FY-4A. Sensors, 22(3), 824.